Senin, 23 Maret 2020

                               Sparkle Friend
       Merayap pelan di jalanan Seoul Korea Selatan saat jam menjelang malam merupakan hal yang sangat menyenangkan. Seolah mengamati dunia dalam mikroskop, melihat jalanan dipenuhi orang yang sibuk kesana kemari dengan kesibukan masing-masing, adapun yang hanya bersantai dan tertawa ria dengan teman-temannya. Aku bisa melihat kebahagiaan itu. Senja menghampiriku dengan surai sinar nya, aku pun membenarkan kacamata yang tersandar di mata
kecilku. Mendengarkan lagu dengan airpod kecil pemberian Kak Jaehyun menambah suasana tenang. Seperti biasa aku melakukan ini setiap sore hari, karena ini adalah jam nya aku bisa mengenang semua kejadian yang pernah ku alami. Aku merindukan kala itu, beserta orang-orang itu. 
       Ku hentikan sepeda, ku sandarkan di dekat pohon kemudian berdiri di depan vending machine untuk membeli minuman  Di samping vending machine ada kursi putih, aku duduk di kursi itu sambil memandang jalanan yang dipenuhi pejalan kaki dan pengendara sepeda. Di seberang sana, kulihat laki-laki yang sedang memakan corndog dengan temannya  Ia tertawa sangat lepas seolah-olah ia melepaskan segala keluh kesahnya. Aku memicingkan mataku, sepertinya orang itu tidak asing. Aku pernah melihat orang itu. Wajahnya yang tegas dengan mata bulat sempurna dan hidung mancung  ciri khas itu mengingatkanku pada seseorang. Aku berdiri kemudian menaiki sepeda dan bergegas mengendarai sepeda dengan kecepatan tinggi. 
       
Sampailah di rumah ber cat putih dengan interior aesthetic yang sejuk dipandang dan beberapa lukisan abstrak menghiasi rumah itu. Tak lama, laki-laki berlesung pipi dengan senyumnya yang khas itu menyambutku. Ia sedang duduk santai di depan tv menonton acara music bank. “Kamu habis darimana? Mukanya kok aneh gitu?” tanya nya dengan ekspresi yang bertanya-tanya. “Hah? Ga apa-apa kok kak. Aku cape aja” jawabku sambil cengengesan. “Yaudah” lanjut menonton tv sambil mengunyah cemilan yang sedari tadi ia peluk. By the way, kakak ku adalah penyanyi. Tapi saat ini, ia sedang tidak melakukan pekerjaannya. 

       Aku masuk ke dalam kamar yang dihiasi berbagai lukisan dan poster idola ku. Ku buka handphone yang sedari tadi ku biarkan di dalam saku hoodie berwarna abu-abu yang kupakai. Aku mematung melihat banyak sekali pesan masuk. Dan itu pesan dari Mark. Sahabatku sejak Junior Highschool  sampai Senior Higjscool saat aku bersekolah di canada. Tetapi pada saat lulus Senior Highscool dan masuk dunia perkuliahan, aku pindah ke Korea dan Mark tetap di Canada. Akibat kesibukan masing-masing akhirnya aku dan mark  lost contact sampai sekarang. Aku tak tau mengapa bisa begitu. 
       “Hi grace. Ini mark”
       “Kamu dimana”
       “Ayo bertemu”
       “Sudah lamaa sekali kita tidak berbincang”
       “Ayo lah” 
       Tiba-tiba aku gugup melihat isi pesan itu. Tetapi ada rasa yang aneh, kenapa mark tiba-tiba mengajak ku bertemu. Bukankah ia sudah lupa dengan persahabatan kita. Dulu kita adalah sahabat yang penuh mimpi, aku menceritakan semua mimpi-mimpi ku kepada mark. Begitupun dia, banyak yang ingin ia lakukan di masa depan. Banyak sekali kenangan aku dan mark. Mark sudah ku anggap sebagai saudara ku sendiri. Dia terlahir dari keluarga yang baik dan sopan serta memperlakukan orang disekitarnya dengan baik. Maka tak heran kita berteman sampai selama itu. 
       Aku memberanikan diri untuk menjawab dan menyetujui pertemuan pertama dan mungkin terakhir itu karena mark tidak akan lama di Korea dan akan kembali ke Canada. Ku ketik banyak kata, tak lama ku hapus lagi. Sangatlah gugup. Karena selama ini kita tak pernah berbincang seperti dulu lagi. 
       “Hi Mark”
       “Aku di sini, aku tau kamu di Korea”
       “Ayo bertemu, dimana?”
       Ku pandang handphone yg sedari tadi tak ku kembalikan dari roomchat ku bersama mark walau hanya beberapa kata saja. Aku memutuskan untuk bergegas berganti pakaian dan membersihkan wajah serta membereskan kamarku yang sedikit berantakan dan kemudian tidur. Aku lupa bahwa mark belum menjawab pesanku.
       Pagi yang cerah menerangi hari ini, sinar mentari yang hangat dan penuh kelembutan meresap ke dalam tubuh. Pagi ini adalah momentum dimana aku dan mark akan bersenda gurau untuk pertama kalinya sejak kita terpisah jarak. Aku bergegas mandi dan bersiap-siap dengan pakaian seadanya. Saat ini sedang musim salju di korea, aku memakai mantel yang cukup tebal. Tak lupa ku ingatkan mark untuk memakai baju yang tebal dan ia menurut, gemas sekali. Terbayang senyum mark yang ciri khas itu akan ku lihat lagi setelah sekian lama. Senyumannya membuat ku yakin dan mengerti bahwa tersenyum itu penting, satu kata yang ku ingat saat aku mengeluh dan menangis perihal masalahku kepada mark, dia berkata kepadaku “It’s not always easy, but that’s life. Be strong cause there are better days ahead”. Kata itu akan ku jadikan reminder sampai kapan pun.
        Sampai lah di The Garden of Morning Calm. Ku lihat sekitar, tak ada mark. Mark kemana? Ku coba telephone mark, tidak ada jawaban. Ku tanyakan kepada kak taeyong, ia adalah kakak mark yang kemarin ku lihat bersama mark di tempat makan. 
       “Kak ty”
       “Mark udah berangkat ke sini kan?”
       “Aku cari-cari gaada, gak aktif juga hp nya udh aku telfon berapa kali”
Kebetulan kak taeyong online dan dia gercep jawab pesanku. 
       “Udah dek”
       “Kenapa emang? Mark gaada disitu?”
       “ Yaudah tunggu aja dulu, dia lagi beli makanan kali”
       Aku mencoba positif thinking setelah mendengar jawaban kak taeyong. Terhitung 2 jam aku nunggu belum ada tanda-tanda mark datang. Aku coba cari lagi, ku susur seisi garden tapi tetap saja nihil. Akhirnya aku lapar, ku putuskan membeli tteokbokki dan eomuk. Sambil makan, ku tunggu mark dan tetap saja tidak ada. Tak lama, hp ku berdering tanda ada telfon masuk. Ku lihat itu dari kak jaehyun, tumben dia nelfon.
       “Iya kak?
       “Dek kamu dimana?” tanya kak jaehyun, kudengar suaranya sedikit bergetar. 
       “Aku kan lagi mau ketemu mark, kan aku dah bilang tadi pagi” 
       “Dek….” kudengar suaranya seperti menahan sesuatu. Dia nangis? Kenapa?
       “Kak, kenapa nangis?” aku tak pernah mendengar kak jaehyun seperti ini. 
       “Mark…” kak jaehyun berhenti seolah-olah ia tak sanggup meneruskan perkataannya. 
       “Kenapa sih kak?” Aku sudah tak tenang, namun ku coba tetap berpikir positif.
       “Mark udah ga ada, dia kecelakaan” 
Hening….
       “Dek, kamu ga apa-apa kan? cepet pulang, kita berangkat ke rumah mark sekarang”
       “Kakak bohong kan!” aku tak peduli berapa banyak orang melihat aku menangis sejadi-jadinya           mendengar itu semua.       
 Kak jaehyun terdengar hanya bisa menangis. Aku tak memikirkan apa-apa, langsung saja aku bergegas pergi ke kediaman mark. Kenapa kak taeyong tidak memberi tahu aku secepatnya, kenapa malah kak jaehyun?. Mungkin kak taeyong tak sanggup menjelaskan dan ia pun kaget mendengar adiknya kecelakaan. Dan kamu mark, secepat itu kamu pergi. Aku rindu melihat senyuman itu. Aku sudah lama tak mendengar suara tawa mu. Hari ini adalah seharusnya hari dimana kita menghabiskan waktu bersama. Tapi mungkin ini adalah jalan terbaik. Sudah menjadi takdir yang harus teejadi. 
       Di rumah ber cat putih itu aku melihat banyak sekali orang yang mungkin sedang mengurus mark untuk yang terkahir kali, aku tak kuasa menahan tangis. Ku tahan sebisa mungkin, perlahan ku langkahkan kaki masuk ke dalam rumah itu. Ku lihat kak taeyong menangis, di samping kak taeyong ada jisung. Jisung adalah adik kandung mark yang umurnya sama dengan adik ku, Lia. Jisung menangis sejadi-jadinya. Ku lihat Tante Yoona pun menangis, dan terlihat sudah tak kuat lagi melihat mark. 
       Aku hanya bisa menangis di tempat, orang-orang tidak menyadari kehadiranku. Akhirnya datanglah kak jaehyun, membawa karangan bunga untuk mark sebagai tanda belasungkawa dan berterimakasih untuk yang terkahir kalinya kepada mark karena sudah menjadi orang yang sangat baik dan berpengaruh di hidupnya adiknya. 
       
       Untukmu, Mark. Terimakasih. Entah harapan apa untuk bertemu lagi suatu hari nanti atau hanya ungkapan terimakasih atas apa yang telah kamu lakukan kepadaku dan semua orang disekitarmu. You are the best person that I’ve ever met. You’re the Sparkle Friend. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar